Minggu, 25 Oktober 2020

DIA SATU PAKET, SEBUAH KISAH INSPIRATIF

DIA SATU PAKET

Matahari mulai bergulir ke arah barat. Teriknya pun mulai memudar. Angin bertiup sepoi-sepoi memberi pertanda waktu telah sore.

Adalah Fauzi, seorang guru tua berusia lima puluh tujuh tahun. Sosok ini bertubuh pendek dengan rambut lurus yang sudah mulai dua warna. Fauzi sudah tiga belas tahun mengajar di SMA  Bhakti Persada. Waktu yang cukup lama sebagai seorang abdi negara yang bertugas mencerdaskan anak bangsa.

Waktu tiga belas tahun mengabdi di sekolah yang sama membuat Fauzi merasa sekolah adalah rumah ke duanya. Teman sejawat dan anak didiknya menerima dia apa adanya. Dilaluinya masa pengabdian dengan riang. Setiap kali menemui kesulitan, teman sejawatnya selalu siap membantunya.

"Pak Fauzi," suara itu memecahkan lamunannya siang itu. 
"Ya, ada apa mbak Yati?"jawab Fauzi dengan sopan.
"Bapak diminta menemui Bapak Kepala di ruangannya," jawab Yati, staf Tata Usaha  di sekolahnya.
"Oh, ya. Makasih, mbak Yati. Saya akan segera menghadap beliau."

Sekian pertanyaan hinggap di kepala Fauzi. Tidak biasanya Kepala Sekolah memanggil anak buahnya ke ruangan beliau. Dengan hati penuh pertanyaan, Fauzi pun menghadap Kepala Sekolahnya.
"Assalamu'alaikum,"  suara lirih Fauzi sambil mengetuk pintu ruangan atasannya. 
"Wa'alaikum salam, masuk." jawab Kepala Sekolah.
" Bapak memanggil saya?" sapa Fauzi dengan lembut.
"Oh, iya pak. Silakan duduk." dengan sopan sang atasan memperlakukan anak buahnya. 

Sejenak atasan Fauzi menghela napas panjang. Ekspresi tegang bisa Fauzi lihat dengan jelas. Ada rasa sesak di dada atasannya ini. Ada beban berat yang mengganjal hati beliau.

Dengan suara gemetar, Kepala Sekolah menyampaikan kabar yang kurang baik sambil menyerahkan secarik kertas, seperti surat dinas. Fauzi berpikir itu surat perintah untuk mengikuti pelatihan atau semacamnya. Diterimanya surat tersebut dengan perasaan datar. 
           Samar terdengar suara atasannya,"Pak Fauzi harus berpindah tugas. Maafkan saya. Selaku atasan saya sudah berusaha mengajukan keberatan. Sayangnya, permohonan saya ditolak."

Mendengar perkataan atasannya, Fauzi sontak kaget. Ekspresi sedih, kecewa, marah langsung menyelimuti wajahnya. Lemas seluruh tubuhnya. Keringat dingin bahkan mengaliri di pelipis kanan dan kirinya. Dengan gontai dia keluar dari ruangan atasannya.

Jam kantor pun usai. Fauzi dan teman sejawatnya segera berkemas pulang. Sepanjang perjalanan otak Fauzi dipenuhi dengan bayangan surat pindah tugas yang telah diterimanya. Sumpah serapah bergumul di batinnya. Sekian umpatan memenuhi pikirannya. Mengapa harus aku yang pindah tugas? Mengapa aku yang sudah 57 tahun ini yang dimutasi? Bagaimana aku bisa beradaptasi di tempat tugasnya yang baru? Seperti apa pertemanan dan persaudaraan di tempat yang baru?

Ban motor Fauzi terus berputar kencang mengiringi gejolak hati pemiliknya. Gerakan motor kadang mulus kadang gontai selaras dengan suasana hati pemiliknya.

Tak terasa pintu rumah sudah di hadapan Fauzi. Dengan lemas ditentengnya tas kantor kesayangannya. Tepat di depan pintu Rukiyah, sang istri menyambut dengan senyum manisnya. Tapi senyum itu tidak bertahan lama ketika menyadari wajah suaminya tidak seperti biasa.
"Pak, ada apa dengang Bapak. Bapak sakit? Kok lemes gitu?"Rukiyah menyodorkan pertanyaan demi pertanyaan. Wajah bingung dan cemas tampak jelas. 

Masih menenteng tasnya, Fauzi bergegas masuk rumah tanpa menjawab pertanyaan istrinya. Ini membuat Rukiyah semakin cemas. Setelah berganti pakaian dan makan secukupnya dia memanggil istrinya,"Bu,....ibu...!"
"Ya, pak," sahur Rukayah sambil bergegas menemui suaminya.
" Bu, maaf ya tadi bapak tidak menjawab pertanyaan ibu. Ibu ingat tidak berapa lama bapak mengabdi di sekolah yang sekarang ini?"kata Fauzi membuka keheningan ruang keluarga. 
"Iya, pak. Tidak apa-apa. Tapi ibu bingung, bapak kok tidak seperti biasanya. Soal berapa lama bapak ngajarnya seingat ibu sebelum kita menikah bapak sudah ngajar di situ. Memangnya kenapa?"suara Rukiyah terdengar lembut di telinga. 
"Bu, setelah sekian lama dan bapak sudah mendekati hampir pensiun, ternyata hari ini bapak menerima surat pindah tugas. Pindah ke SMA NUSA PERSADA yang menurut cerita itu sekolah yang jauh lebih bagus dari pada sekolah bapak yang lama," jelas Fauzi pada istrinya. Dialog panjangpun terjadi hingga saatnya pasangan itu berbaring di peraduan mereka.

Pagipun datang. Matahari menyambut pagi dengan sinarnya yang terang benderang. Kesibukan keluarga Fauzi berjalan normal seperti biasanya.

Agenda Fuazi hari ini adalah tunjuk muka ke sekolah barunya. Berbagai perasaan masih tetap bergejolak di hatinya. Setelah perjalanan setengah jam, sampailah dia di SMA NUSA PERSADA. Berbekal secarik kertas surat mutasi dia mengetuk pintu resepsionis dan menyampaikan maksud kedatangannya. 

Dengan ekspresi datar petugas segara mengarahkan Fauzi memasuki ruang kepala sekolah. Dalam hatinya, kesan pertama biasanya menggoda tapi petugas ini tidak ada manis-manisnya. Di ruang kepala sekolah, Fauzi duduk tanpa merasakan kenyamanan. Setelah berbincang cukup lama akhirnya Fauzi undur diri. Besuk adalah hari pertamanya. 
        Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Tak terasa sudah satu semester Fauzi pindah di tempat tugasnya yang baru. 
       Hari ini tepatnya hari Sabtu, seperti biasanya Fauzi pulang tanpa membawa keceriaan dalam hati dan wajahnya. Dia mencoba menikmati pemandangan di kanan kiri jalan yang di laluinya. Tapi semua terasa hambar. Seperti makanan tanpa bumbu yang pas. 
Tiba-tiba dia terhenyak oleh suara yang sepertinya sudah tidak asing baginya. Ya......itu suara Mazmo temen satu sekolahannya dulu. Mazmo adalah sosok anak muda yang santun, halus budi bahasanya. Mazmo lah yang selalu membantunya. Mazmo adalah teman akrab yang selalu ada buat dia ketika menemui kesulitan. 
          Obrolan demi obrolanpun terjadi. Sampai pada satu titik, Mazmo bertanya pada Fauzi," Gimana, Pak? Sudah setahun lho Bapak mutasi. Pasti sudah betah, ya Pak."
          Mendengar pertanyaan teman lamanya ini, Fauzi tertunduk seperti menahan beban. Setelah menghela nafas, Fauzipun bercerita panjang lebar. Dia merasa tidak diterima di tempat barunya. Lingkungannya menuntut dia untuk segera mengejar ketinggalannya di berbagai hal. Mulai dari pola kerja sampai penguasaan IT. Ibarat orang lomba, Fauzi dituntut untuk bisa berlari cepat. Hal yang sudah tidak mungkin dilakukannya di usianya yang sudah memasuki limapuluh tujuh tahun.
         "Itulah pak Mazmo suka duka Bapak di tempat yang baru. Bahkan Bapak sering jadi bahan olok-olokan teman- teman sekantor. Sebenarnya Bapak tidak terima perlakuan mereka. Tapi Bapak bisa apa?" lirih suara Fauzi mengungkapkan suara hatinya.
        Mazmo yang sedari tadi menjadi pendengar yang baik merasakan luka di hati sahabat yang sudah dia anggap seperti bapaknya. Dalam hati dia tidak terima Fauzi sering dibully di tempat tugasnya yang baru. Dengan suara lirih Mazmo berusaha menenangkan dan menguatkan sahabatnya,"Saya bisa merasakan apa yang Bapak rasakan. Ingat kata-kata yang dulu pernah Bapak sampaikan pada saya. Bahwa Allah tidak akan menguji hambaNya melebihi batas kekuatannya. Bapak pasti bisa menghadapi itu semua."
           Setelah sekian lama bicara panjang lebar, akhirnya kedua sahabat itu pun berpisah untuk menuju ke rumah masing-masing.
          Mazmo. Ya.....anak muda ini masih merasa terusik dengan kondisi sahabatnya. Tiba-tiba wajah Mazmo berbinar seolah menemukan sesuatu yang menyenangkan. "Ah....ya kan di sekolah Pak Fauzi ada Niken sahabatku. Aku akan bicara dengannya agar selalu membantu dan mendampingi Pak Fauzi. Ya....dia pasti bisa membantu," gumam Mazmo.
        Singkat cerita pertemuan Niken dan Mazmo pun sudah di tentukan. 
          "Mo......,"teriak Niken sambil melambaikan tangannya.
          "Hai.....niken," sambut Mazmo.
           "Lama kita tidak ketemu,ya Mo. Sejak selesai kuliah baru sekarang kita bisa ngobrol. Eh, Mo.... Aku mau cerita hal seru," suara Nekin terdengar semangat.                 Mazmo belum sempat bercerita soal Fauzi. Niken hampir tidak memberikan kesempatan padanya untuk meminta tolong pada Niken. 
          "Mo, kamu tahu tidak? Di kantorku kan ada pegawai dan guru baru. Ada enam orang. Yang lima orang sih oke profilnya. Tapi yang satu......,"Niken menghentikan ceritanya sambil mencibirkan bibirnya. 
         "Mo, guru baru di sekolahku ini yang satu sudah tua lho. Aku nggak yakin dia bisa beradaptasi di tempatku. Orangnya low profile. Apa-apa tidak bisa. Cuma program excel sederhana saja tidak bisa.  Belum lagi orangnya sakit-sakitan. Belum setahun di sekolahku sudah sakit tiga kali.  Dia juga sering dijadikan bahan olok-olok di ruang guru. Itu semua karena memang dia low profile," Niken terus saja nyerocos dan tampak bersemangat sekali menceritakan teman bari yang tidak disukai di sekolahnya itu. 
          "Niken,.....tunggu. Dari tadi kamu bercerita dengan semangat. Apakah kamu tidak merasa bersalah menceritakan temanmu sendiri? Bahkan kamu ikut larut dalam olok-olokan itu? Menghina temanmu sendiri yang usianya jauh lebih tua dibanding kamu?" desak Mazmo dengan penuh rasa heran.
          "Apa? Kasihan? Di tempat kerjaku semua harus mampu mandiri tidak pandang usia. Semua harus mau belajar dan semua harus dikerjakan sesuai perintah dan tepat waktu,"kilah Niken yang semakin membuat Mazmo naik pitam.
          "Tunggu, Niken. Kalau boleh tahu, siapa teman yang kamu maksud itu?" tanya Mazmo.
           "Oh, namanya pak Fauzi. Menurutku dia tidak cocok bekerja di tempatku. Orangnya kudet," jelas Niken. 
Ketika nama Fauzi disebut, Mazmo kontan mengepalkan tangannya. Emosinya tidak bisa dibendung lagi. Dengan penuh amarah Mazmo menunjukkan jarinya ke arah Niken sambil berkata,"Nik, aku tidak menyangka ternyata apa yang dikatakan pak Fauzi semuanya benar. Kamu dan teman-temanmu sudah tidak punya hati. Angkuh dan sombong kalian."
         "Lho...emangnya siapa kamu pak Fauzi itu? Kok sampai segitunya kamu membela dia?"tangkis Niken.
           "Kamu mau tahu? Pak Fauzi adalah temanku. Dulu dia teman sekantorku. Di tempatku tidak ada istilah low profile. Semuanya saling asah, asih, dan asuh. Yang pandai IT membimbing yang kurang pandai. Termasuk Pak Fauzi. Meski seperti itu kemampuan beliau,
kami sangat menghormati beliau. Kami bantu ketika beliau ada masalah. Aku tidak menyangka kamu sudah berubah," kata-kata tajam Fauzi sungguh menusuk relung hati Niken. 
    Sejenak Niken diam. Dilihatnya wajah Mazmo yang masih terlilit amarah. "Mo, maaf aku tidak tahu kalau pak Fauzi itu temanmu. Aku benar-benar minta maaf," pinta Niken.
           Akhirnya Mazmo berkata," Kalau pun dia bukan temanku, apakah hal yang patut jika kamu akan memperlakukan dia seperti itu? Ingat, Nik. Ketika kamu mempunyai teman, terima dia apa adanya. Satu paket dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Jangan kucilkan dia atau kalian olok-olok dia hanya karena teman tidak sesuai standar kalian. Ingat itu!"
         Mazmo pun segera meninggalkan Niken begitu saja. Amarah masih hinggap di dadanya. 
          Sejak saat itu keakraban Mazmo dan Fauzi lebih erat lagi. Mazmo selalu membantu Fauzi meski sudah berbeda tempat tugas. 



         




Sabtu, 24 Oktober 2020

Waktu senggangku bersama suamiku, Sabtu, 24 Oktober 2020

 HIBURAN MURAH MERIAH


Alhamdulillah....itu kata yang ku ucapkan ketika pekerjaan si Inem sudah selesai kukerjakan. Hari sabtu adalah hari pembalasan bagiku. Hari Sabtu adalah waktu untuk menyelesaikan tugas-tugas ibu rumah tanggaku yang masih tertunda. Persis saat adzan Asar berkumandang, tiga puluh potong baju selesai kuseterika dan kurapikan.

Setelah lima hari berkutat dengan laptop, persiapan materi siswa, koreksi tugas siswa dan sebagainya, akhirnya malam minggu pun tiba. Sedari siang aku dan suamiku berencana akan mengunjungi bandara YIA Yogyakarta. Kebetulan rumah kami dekat dengan bandara itu. 

Ah....mungkin bagi sebagian orang kami katrok, udik atau sebutan lain. Tapi itu tidak penting bagi kami. Hiburan sesaat bagiku sudah cukup untuk merefresh otakku. Sekedar melihat laut dan pesawat naik turun pun sudah jadi hiburan bagiku.

Lagi-lagi semua rencana manusia tidak selamanya berjalan mulus. Rencana ke bandara YIA pun gagal sudah. Suamiku ada agenda mendadak melayani umat. Ada mahasiswa yang membuat tugas dari kampus dan butuh tenaga suamiku. Ya...gatot lagi...gatot lagi. Sedikit kecewa tapi tidak jadi soal. Kapan-kapan kami bisa berkunjung ke sana.

Cukup lama suamiku melayani mahasiswa itu. Setelah setengah jam selesai sudah perbincangan mereka. Jam sudah menunjukkan pukul 16.48 ketika tamu suamiku pulang. Sudah tidak mungkin ke YIA karena waktunya sudah terlalu sore.

"Buk, ini kan malam minggu. Gimana kalau kita ke JLS (Jalur Lintas Selatan)?" ajak suamiku.

"Yok..tunggu ya,Yah. Ibu ganti baju dulu" kataku. Tak lupa handphone kuraih dengan cepat. Dan sesaat kemudian kami berboncengan mesra bak sepasang pengantin baru.

Sampai di lokasi aku dan suamiku ternganga.....ya Allah...sudah banyak orang berkumpul di tempat itu. Pak Polisi juga tidak ketinggalan berpatroli untuk mengamankan situasi.

Ya......setiap sore jalan jalur lintas selatan dekat jalan Daendeles yang sangat lebar menjadi ajang permainan layang-layang. Bukan sembarang layang-layang tetapi layang-layang berbentuk naga. Dimalam minggu  layang-layang naga akan berkibar di angkasa sampai jam sembilan malam.



Tua,muda, anak-anak, semuanya tumpah ruah ditempat itu. Tak ketinggalan aku dan suamiku.  Sore yang mesra kami nikmati berdua. Hal sederhana tapi cukup membahagiakanku. Apalagi setelah rencana ke bandara yang gagal. 

Kami nikmati satu demi satu layang-layang yang mengangkasa sore itu. Suamiku sengaja memacu motor perlahan-lahan agar kami bisa menikmati keindahan angkasa di tempat itu. Tak lupa ku siapkan handphone ku untuk ceklak ceklik mengambil gambar.  

Dengan tetap berada di atas motor kami berdua menyempatkan diri menghitung jumlah naga yang mengangkasa. Satu, dua, tiga,.....dua puluh empat naga menunjukkan keperkasaan mereka. 

"dua puluh empat,Yah. Wow....banyak sekali. Warna-warni juga"teriakku karena takjub dengan kehebatan layang-layang itu. 

"Iya, ada dua puluh empat"sahut suamiku. 

Sepanjang jalan menikmati layang-layang dalam hati aku berterima kasih pada suamiku. Hiburan sesaat ini sungguh menambah cintaku padamu.

Dua puluh emoat naga sudah kami nikmati keindahannya. Sekitar setengah jam kami mengitari jalur itu. 

"Ayo,Yah. Kita pulang, sudah hampir Maghrib"pintaku pada suamiku.

Setelah membeli tahu walik makanan kesukaan anakku, kami pun bergegas pulang. 

Ah........puas sudah refreshing ku sore ini. Lelah dan capek terbayar sudah meski sesaat.


With love

Your wife

Jumat, 23 Oktober 2020

BELAJAR MENULIS BARENG OM JAY, HARI KE 9, 23 OKTOBER 2020

 TEKNIK JITU MENULIS NASKAH 

UNTUK 

KORAN ATAU MAJALAH


Kelas Menulis Om Jay, ya...kelas ini penuh sensasi. Mengapa aku berpendapat demikian? Di kelas ini semuanya ada. Orang-orang hebat berkumpul di sini. Materi-materi luar biasa disajikan di sini. Belum lagi tantangan-tantangan yang diberikan pada peserta perkuliahan. Tidak ada istilah senior atau pun junior, tantangannya sama, MENULIS RESUME dengan baik. 

Sebenarnya tidak banyak materi yang disampaikan di setiap perkuliahan. Terkadang hal-hal sederhana yang berkaitan dengan dunia tulis menulis. Tapi ketika sudah menjadi sebuah resume akan muncul berbagai macam gaya. Setiap peserta memiliki gaya, cita rasa yang berbeda dalam membuat resume. Ini menjadikanku kagum. Aku bisa belajar dari berbagai bentuk resume. 

Sama seperti hari-hari perkuliahan yang sudah berlalu, curiosity ku belum berhenti. Pertanyaan demi pertanyaan tentang sosok penting di setiap pertemuan, materi yang akan dibawakan masih terus bergumul di kepalaku. 

Malam ini adalah hari ke sembilan perkuliahan di kelas Om Jay. Waktu antara pertemuan yang satu dengan pertemuan berikutnya seolah tidak ada jarak. Begitu cepat waktu bergulir dan tak terasa waktu perkuliahan sudah diambang pintu. Tinggal menunggu Sang Empu kelas ini untuk membuka pintu kelasnya. 

Setelah kubaca informasi tentang pemateri malam ini, kekagumanku mengenai kelas ini pun semakin meninggi. Om Jay dan tim memang luar biasa dalam mengemas materi. Tanpa terasa berbagai ilmu dari cara menulis, memulai sebuah tulisan, kendala dalam menulis sudah masuk ke dalam gelas-gelas ilmuku. 

Dan malam ini aku kembali terkesima. Senyum simpul keluar dari bibirku. Ya Allah aku ada diantara orang-orang cerdas. Aku bisa meraba arahan apa yang akan diberikan pada kami. Tapi aku harus menahan diriku. Sabar, Yul! Tunggu waktunya. Simpan rabaan mu tentang materi malam ini. Jadilah murid yang baik dulu.....Itu gumamku pada diriku sendiri.

Waktu perkuliahan pun dimulai. Moderator untuk pertemuan kali ini adalah sosok baru. Ibu Fatimah namanya. Beliau tinggal di Aceh. Adapun pemateri malam adalah Bapak H. Encon Rahman yang tinggal di Majalengka. Dua sosok hebat ini mampu menyatukan kami yang berasal dari Sabang sampai Merauke. Super......seperti kata Mario Teguh.

Sebelum menyampaikan resume perkuliahan, akan sedikit aku ceritakan tentang tokoh utama malam ini.  Bapak Encon Rahman adalah sosok hebat. Prestasi beliau sungguh luar biasa. Predikat Guru Berprestasi tingkat nasional pernah beliau sandang. Penghargaan tingkat internasional pun tak luput dari genggaman beliau. Puncak prestasi beliau ini diperoleh di tahun 2017. Tidak kalah hebatnya dari pemateri satu sampai ke delapan, Bapak Encon juga sudah menghasilkan artikel dan semuanya sudah dimuat di koran atau majalah baik tingkat lokal maupun nasional. 

Dengan suaranya yang sangat adem didengar kalau orang jawa bilang, beliau menyampaikan bahwa  lebih dari lima ratus artikel sudah lahir dari tangan cerdas beliau. Masih dengan intonasi bicara yang enak didengar, Bapak  Encon menceritakan awal mula beliau menulis. 

Pada awalnya, beliau memang sudah memiliki kegemaran membaca koran. Kegemaran ini muncul ketika Bapak Encon masih duduk di bangku SMP. Mulailah beliau berpikir untuk menulis. Karena merasa belum memiliki ilmu yang cukup tentang menulis,  Bapak Encon menulis hanya sebatas penulisan untuk mading di sekolahnya. Keterampilan beliau dalam menulis belum bisa berkembang dengan baik. Kebiasaan menulis beliau ini terus berlanjut ketika beliau duduk di bangku SPG. Tulisan-tulisan Bapak Encon yang dipampang di mading sekolah  sangat bagus. Tulisan yang ditempel di mading pun beragam. Hal  yang membanggakan beliau adalah ketika tulisan beliau mendapatkan apresiasi dari teman dan guru. 

Adalah Haji Entis, salah seorang guru Pak Encon di SPG. Pak guru ini melihat potensi yang luar biasa muridnya ini. Dimintanya Pak Encon mengirim tulisan-tulisannya ke  koran, majalah atau tabloit. Keraguan sempat merasuki Pak Encon waktu itu. Tapi Pak Entis terus menyemangati muridnya ini agar mau mencoba menulis untuk tingkat yang lebih tinggi tidak sebatas di mading sekolah. Akhirnya dengan pendampingan dan support yang hebat dari Pak Entis, Pak Encon pun mengirimkan tulisannya ke jenjang yang lebih tinggi. 

Mitra Desa, ...... itulah tabloit pertama yang menjadi incaran Pak Encon untuk mencoba keberuntungan dengan tulisan-tulisannya. Di media cetak lokal ini, Pak Encon baru berani mengirimkan naskah-naskah ringan saja, seperti kartun, humor, sajak dan lain-lain. Oh ya...ada hal istimewa dari Pak Encon. Jari-jari ajaibnya pandai sekali menghasilkan kartun. lebih dari seratus lima puluh kartun sudah beliau hasilkan. Ketika hasil karyanya dimuat sudah pasti ada kepuasan. Selain itu,  secara finansial pun menjanjikan. Akan tetapi, bagi Pak Encon menulis bukan semata-mata mengejar finansial tetapi lebih pada kenikmatan.

Pengalaman menulis puisi, humor dan kartun yang berhasil dimuat tidak  membuat Pak Encon puas. Beliau mencoba menulis cerpen. Belum merasa puas, Pak Encon merambah ke penulisan artikel. Dituliskan kegiatan-kegiatan teman-temannya kemudian dikirimkan ke koran Mitra Desa yang merupakan anak asuh dari  redaksi koran ternama Pikiran Rakyat. 

"KIAT-KIAT MENULIS UNTUK MAJALAH ATAU KORAN"

Masih dengan suaranya yang begitu berat dan berwibawa, Pak Encon meneruskan materi kuliahnya. Beliau memaparkan kiat-kiat bagi penulis pemula agar tulisannya dimuat di koran atau majalah. Ada beberapa hal yang beliau sampaikan:
1. Menulis dari hal-hal yang sederhana
            Menulis dari jenis tulisan yang sederhana dan ringan sangat disarankan. Selain mudah untuk dilakukan juga tidak menjadi beban yang berat ketika menulis tulisan-tulisan ringan seperti puisi, pantun, dan lain-lain.

2. Bergabung dengan komunitas menulis
            Mengapa hal ini ditekankan oleh Pak Encon? Dengan bergabung di komunitas menulis, apapun itu, akan menambah  wawasan dan ilmu di bidang tulis menulis. Hal ini  juga dilakukan olek Pak Encon. Beliau bergabung dengan komunitas Balai Jurnalis Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia. Melalui komunitas ini Pak Encon mendapatkan ilmu bagaimana menulis artikel dan cerpen yang baik, bagaimana mengetahui jenis-jenis tulisan yang dibutuhkan koran. 

3. Mengirim naskah ke  redaksi lokal terlebih dahulu
           Hal yang harus dipahami khususnya penulis pemula, bahwa sebagai penulis harus berawal dari yang kecil dan sederhana. Demikian juga halnya dengan pengiriman naskah. Pengiriman naskah ke redaksi lokal lebih membuka pintu untuk dimuatnya tulisan.  

4. Tahan Banting
            Mental tahan banting harus dimiliki oleh seorang penulis. Ketika penolakan naskah terjadi atau tidak dimuatnya tulisan, seorang penulis tidak boleh patah arang. Jangan pernah berhenti mengirim naskah hanya karena satu atau dua kali penolakan. 

MENGAPA NASKAH TIDAK DIMUAT?


Seperti qoute di atas, secara umum ketika harapan dan kenyataan tidak seperti yang diharapkan akan membuat kita kecewa bahkan patah hati. Berkatian dengan tidak dimuatnya tulisan di koran atau majalah, Pak Encon mengajak kami berpikir positif. Berikut hal-hal yang harus diperhatikan ketika tidak dimuatnya tulisan kita:
a. Perhatikan judul tulisan dengan harapan redaksi
    Ketika judul naskah tidak sesuai dengan harapan redaksi maka sangat membuka kemungkinan        penolakan. Misalnya mengirim naskah yang berisi tips atau bagamana membuat sesuatu. Tema ini tidak sesuai dengan harapan koran. 

b. Tema tulisan dengan kebutuhan pembaca
    Tema tulisan juga harus mengikuti pangsa pasar, dalam hal ini pembaca. Tema yang sedang hangat dikalangan masyarakat sangat menentukan dimuat atau tidaknya tulisan yang dikirim. Mengapa? Dipungkiri atau tidak, dunia percetakan adalah dunia bisnis. Omset dunia ini tidak luput dari peran konsumen dalam hali ini pembacanya. Jika tulisan kita tidak sesuai dengan permintaan pembaca sudah pasti tidak akan dimuat.

c. Ide tulisan sudah ketinggalan
    Ketika ada momen tertentu sudah pasti penulis akan menorehkan momen tersebut dalam tulisannya. tidak menutup kemungkinan satu momen bisa ditulis oleh lebih dari satu penulis. Kecepatan pengiriman ke redaksi sangat menentukan dimuatnya tulisan. Ketika ide  kita sudah didahului oleh penulis lain sudah pasti tulisan kita sudah dianggap basi.

APA SAJA KUNCI UTAMA MENULIS ARTIKEL ?

Untuk melakukan sesuatu dibutuhkan ilmu yang cukup agar  hasil maksimal diperolah dan sesuai harapan. Demikian juga dengan menulis untuk koran atau majalah. Senjata ampuh harus dimiliki agar hasil tulisan dapat diterima dengan baik oleh pihak redaksi maupun masyarakat. 

Untuk  hal di atas, Pak Encon juga membagikan ilmunya kepada kami. Kami harus mengetahui dan memahami teknik-teknik menulis meliputi:
a. Cara membuat judul artikel
b. Cara menulis prolog dari artikel 
c. Cara memaparkan artikel
d. Cara menutup artikel

Ke empat dasar di atas merupakan kunci utama dalam menulis artikel. Ke empat teori tersebut merupakan satu kesatuan yang akan membangun kesempurnaan artikel.

Di akhir perkuliahan, Pak Encon berpesan mengenai adab pengiriman naskah. Disarankan untuk tidak mengirim naskah yang sama, di waktu yang sama ke beberapa redaktur. Hal ini perlu dilakukan agar tidak melanggar kode etik penerbitan naskah. Disarankan satu naskah dikirim ke satu redaksi terlebih dahulu. Jika kita mengirim ke koran, disarankan menunggu satu sampai tiga hari. Jika mengirim naskah ke tabloit, disarankan untuk menunggu 2 dua sampai tiga bulan. Jika  dalam  kurun waktu tersebut tulisan tetap tidak dimuat maka kita boleh mengirim ke redaksi lain.

Demikian hasil resume pekuliahan hari ke sembilan. Semoga bermanfaat. Salam literasi ...semangat menulis.






Kamis, 22 Oktober 2020

BELAJAR MENULIS BARENG OM JAY, HARI KE 8, 21 OKTOBER 2020

 

MOTIVASI MENULIS DARI BU GURU CANTIK

Hari ini perjuanganku untuk berguru di kelas Om Jay sudah memasuki hari ke 8. Tak sabar aku menunggu jam perkuliahan dimulai. Detik berganti menit. Menit berganti jam. Aku semakin tak sabar untuk berguru. Belajar di kelas ini ternyata seru. Seolah terhipnotis saja, aku terus bertanya-tanya siapa sosok hebat untuk setiap pertemuan dan materi apa yang akan dituangkan ke dalam gelas-gelas ilmuku.

Tak terasa mentari telah bergulir di sebelah barat. Sinarnya pun sudah tidak seterik tadi siang. Sore ini aku dan suamiku memupuk cinta kasih dengan berkebun bersama. Bermain-main dengan tanaman hias memang bisa menyatukan kami dan memperkuat getar-getar cinta kami berdua.

“Ayo, Bu kita pasang paranet. Bapak sudah beli lho paranetnya” ajak suamiku. Memang sudah beberapa hari kami berencana memindahkan beberapa varian aglonema yang sudah kami tangkarkan.  

“Ayo” sahutku dengan cepat.

Kira-kira setengah jam, paranet sudah terpasang rapi. Siap untuk ditempati oleh penduduk baru agar tidak kepanasan. Aglonema memang termasuk jenis tanaman hias yang takut panas. Dengan posisi dibawah paranet pasti tanaman kesayangan kami ini akan jauh lebih cantik.

Adzan Maghrib pun berkumandang, pertanda kami berdua harus berhenti karena panggilan suci ini.  Setelah solat, kembali curiosity ku pun kembali muncul akan materi kuliah malam ini. Aku persiapkan segala sesuatunya untuk mengikuti perkuliahan malam ini. Wedang jahe dan cemilan pun siap menemaniku belajar. Bakwan makanan kesukaanku pun tidak ketinggalan tersaji di meja kerjaku.

Hore ................Jam dinding di kamarku berdentang tujuh kali. Pertanda Om Jay akan membuka pintu kelas. Dan benar saja, ketika aku mengambil posisi duduk manis, Om Jay sudah  membuka pintu ruang kelasku. Rasa lega bercampur dag dig dug terus menggayutiku.



Kalimat indah itu kutemukan di internet saat browsing materi ajar malam ini.. Aku sadar bahwa menuntut ilmu tidak dibatasi dengan usia. Kapan kita belajar dan kepada siapa kita belajar bukan menjadi soal. Meski usiaku jauh lebih tua, aku harus menjadi murid yang baik. Seperti malam ini, egoku harus kutahan sekeras mungkin. Dosen cantik dan muda belia dihadirkan Om Jay.

Ibu Nora Purwa Yunita, M.Pd. adalah dosen istimewa kami malam  ini. Usianya masih sangat muda. Beliau lahir di Kudus, 12 Juni 1989, putra pertama dari dua bersaudara dengan ayah bernama Ali Achmadi, S.Pd dan ibu Noor Fatkhiyah, S.Pd.SD. Hmmmm .... masih muda sekali dosenku kali ini. Saat kubaca CV beliau, ternyata aku terpukau. Diusia yang masih muda sudah sedemikian hebatnya prestasi ibu muda ini.

Berbagai macam komuntas menulis diikuti oleh ibu cantik ini.  Mulia dari komunitas sejuta guru ngeblog, Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan, tim admin di website guru penggerak, komunitas koordinator virtual Indonesia (KKVI), anggota Musyawarah Guru Mata Pelajaran Prakarya dan IPA, serta Pembimbing ekstrakurikuler KIR SMP.

            Salut, terkesima, kagum, itulah kata-kata yang bisa kuucapkan untuk dosen cantikku ini. Bagaimana tidak? Posisi sebagai ibu rumah tangga sudah luar biasa menyita waktu. Akan tetapi beliau  masih mampu berkarya. Masih ditambah lagi dengan beban kerja beliau di kantor baik sebagai guru maupun sebagai wali kelas. Sudah pasti kepenatan selalu menyelimuti beliau.

            Untuk  menjadi sesuatu atau menghasilkan sesuatu, tidak selamanya berjalan mulus. Berbagai sandungan pasti akan dihadapi. Tatangan dan hambatan datang berlalu. Tak pelak hal ini juga dihadapi  oleh Ibu Nora. Pada perkuliahan malam ini beliau menyampaikan rintangan-rintangan selama menulis. Berikut rintangan-rintangan yang beliau hadapi :

1.    Kegiatan yang banyak.

Banyaknya kegiatan menjadi hambatan utama dalam menulis. Apalagi di masa Pandemi seperti sekarang, pembelajaran daring justru menuntut persiapan yang lebih banyak.  Beliau harus menentukan  skala prioritas agar semua agenda dan beban kerja terselesaikan dengan baik. Ditambah lagi dengan beban Ibu Nora sebagai wali kelas. Posisi yang juga membutuhkan tenaga ekstra karena tidak menutup kemungkinan siswa bimbingannya sangat membutuhkan perhatian beliau.


2.    Malas dan jenuh

Rutinitas keseharian yang dilakukan secara berulang-ulang sangat memungkinkan munculnya rasa jenuh. Jika kejenuhan ini sudah tidak bisa diatasi lagi, sifat malas akan mengikuti. Rasa malas mengerjakan rutinitas akan semakin dirasakan.

Agar malas dan jenuh segera hilang, Ibu Nora memiliki trik jitu. Pengalihan perhatian ke hal-hal lain beliau lakukan. Menonton film, membaca novel atau kegiatan lain dijadikan sebagai refreshmen.

Memanjakan diri untuk keluar dari rutinitas memang dianjurkan. Akan tetapi hal ini tidak boleh berkepanjangan. Setelah dirasa cukup, siapkan diri untuk kembali berkarya.

 

3.    Krisis ide

Ketika krisis ide menghadang  Ibu Nora, perempuan cerdas nan cantik ini tetap memaksa diri mencari ide untuk menulis. Pengalaman Bapak Akbar Zainudin, sosok panutannya ini mengingatkan Ibu Nora bahwa segala yang dirasakan dan dilihat bisa diangkat menjadi ide cemerlang untuk menulis.

Ibu Nora membagikan hasil tulisan yang dihasilkan ketika tidak memiliki ide untuk menulis. Berikut link karya beliau yang sudah diunggah di blog pribadi beliau:

a.    Tulisan hasil dari jalan-jalan :

https://noraliapurwa.blogspot.com/2020/05/eksotika-pantai-bandengan-jepara.html

 

b.    Tulisan hasil menonton TV :

     https://noraliapurwa.blogspot.com/2020/05/memahami-dunia-anak-lewat-tontonan.html

 

c.    Tulisan hasil dari suara hati selama pendemi :

h           https://noraliapurwa.blogspot.com/2020/06/menjadi-orang-tua-kedua.html

Dari ketiga contoh di atas, Ibu Nora berusaha menyadarkan kami para penulis pemula untuk memiliki keyakinan mampu menulis bahkan ketika tidak memiliki ide apapun untuk menulis.

 

4.    Perbendaharaan kata.

Sejenak aku teringat kuliah pertama kelas Om Jay . Kata adalah senjata. Bahwa seorang penulis harus memiliki perbendaharaan kata yang cukup atau lebh dari cukup untuk menghasilkan karya. Penguasaan kata yang terbatas menyebabkan terjadinya pengulangan kata yang berujung pada penilaian bahwa tulisan kita membosankan.

Pemateri cantik ini pun pernah merasakan bahwa penguasaan kata maupun diksi beliau kurang memadahi. Dan hal ini juga menjadi kendala beliau ketika menulis. Tapi beliau tidak kehilangan akal. Untuk mengatasi hal ini membaca menjadi pilihannya untuk meningkatkan penguasaan kosa kata. Luar biasa.......seolah tida ada jalan buntu saja untuk ibu dua anak ini.

 

5.    Takut salah

Ketakutan dalam proses menulis wajar terjadi khususnya bagi penulis pemula. Akibatnya, tulisan yang  diharapkan muncul tidak pernah terwujud karena rasa takut ini. Hal yang sama juga dialami oleh Ibu Nora ketika mengikuti kelas menulis OM Jay. Tapi lagi-lagi sosok nomor satu di kelas Belajar Menulis Bareng Om Jay ini mengembuskan kesejukan. Beliau meyakinkkan Ibu Nora untuk tetap menulis.

Dengan berbekal kayakinan dari Om Jay, Ibu Nora tidak lagi memikirkan aturan penulisan ataupun kaidah bahasa yang akan menyulitkannya ketika menulis. Menulis apa yang beliau pikirkan saja.



Selain berbagi pengalaman tentang tantangan atau kendala dalam menulis, Ibu Nora  juga berbagi ilmu sakti jurus jitu menulis. Tiga kata hebat menjadi andalan beliau : “NIAT, PAKSA, MAU”

Niat kuat untuk menulis harus dimunculkan. Setelah muncul niat maka untuk merealisasikan harua ada unsur pemaksaan. Paksa kita sendiri untuk mewujudkan niat yang sudah ada. Ketika sudah ada niat dan keinginan memaksa diri sudah ada maka ujung perjuangan adalah kemauan untuk mengerjakannya.

            Demikian resume saya di pertemuan yang ke 8 kelas menulis bareng Om Jay. Semoga catatan kecil ini bisa menyemagati diri saya sendiri dan pembaca. Jangan pernah takut untuk menulis.......Salam pejuang literasi


 

Selasa, 20 Oktober 2020

Belajar Menulis Bareng Om Jay, hari ke 7, 19 Oktober 2020

 INGIN MENERBITKAN BUKU? INI SOLUSINYA...

Hari ini, Senin tanggal 19 Oktober 2020 perkuliahan bareng Om Jay kembali di buka. Jujur aku kurang bersemangat. Bukan karena sudah mulai malas mengikuti perkuliahan, tetapi rasa penat di kepalaku dan rasa capek yang aku rasakan membuatku engga mengikuti perkuliahan hari ke tujuh ini. Seminggu ini agenda di madrasah sangat padat dan benar-benar menyita tenaga dan pikiranku.

Di sisi lain,  suamiku yang lagi semangat-semangatnya menyusun cerpen mengingatkan aku untuk tetap memegang komitmen atas apa yang sudah menjadi keputusanku, yaitu membersamai teman-temanku di WAG Belajar Menulis Bareng Om Jay.

" Lho, Ibu kok tiduran? Bukannya ini malam Selasa? Ibu ada jadwal dengan Om Jay, kan?," kata suamiku.

"Iya, Yah. Ibu tidak lupa kok. Tapi Ibu sangat capek. Tadi di madrasah mempersiapkan berkas-berkas ibu yang diminta oleh Bu Kepala.  Ini pun belum selesai, " kilah  ku pada suamiku.

"Buk, ayah ingatkan, ya. Dulu Ibu pernah melepaskan kelas ini dan ibu menyesal. Dan Ibu juga bilang ke Bapak kalau ibu akan menggunakan ijin dari Bapak dengan baik. Ibu juga berjanji tidak akan mengeluh. Ibu sendiri lho yang bilang seperti itu," kata suamiku mengingatkan aku.  

Akhirnya, dengan sisa-sisa tenaga yang aku punya, aku mengikuti perkuliahan malam ini sambil rebahan di kamarku. Aku hanya mampu menyimak saja. Membaca chat di WAG pun tidak sedetail biasanya. Jari-jari tanganku pun tidak senakal biasanya. Opening untuk resume ku pun  belum  aku buat.


Thamrin Dahlan
Ketua Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan
Hp. 0815 9932 527
Website YPTD :  terbitkanbukugratis.id
Email thamrindahlan@gmail.com

Dosen kami malam ini adalah Bapak Thamrin Dahlan, SKM, M.SI. Sekilas  tidak kulihat raut wajah lelah di muka beliau. Dari wajah beliau, aku bisa rasakan aura yang luar  biasa, wibawa seorang Bapak nampak jelas kulihat. Tidak kalah hebatnya dengan dosen-dosen yang lain, dosen kami malam ini juga  sudah menerbitkan banyak buku.

Di hari ke tujuh ini, Pak Thamrin berkenan berbagi informasi tentang menerbitkan buku secara gratis di Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (YPTD). Pak Thamrin yang juga seorang  dosen Akper Polri, publisher, penulis ini telah menerbitkan 30 buku.

Bapak Thamrin memiliki chemistry hebat dengan tokoh nomor satu di kelas  Belajar Menulis Bareng Om Jay. Hal ini dibuktikan dengan digandengnya Om Jay pada saat  launching  buku perdana pak Thamrin yang bertajuk "Aku Bukan Orang Terkenal"di tahun 2012. 

Pengalaman Pak Thamrin menerbitkan buku tidaklah mulus. Sebagai penulis pemula, beliau belum dikenal orang. Penerbit pun pernah menolak naskahnya . Bahkan untuk menerbitkan bukunya, beliau harus mengeluarkan dana yang cukup besar.

Karena pengalaman  dan suka duka beliau dalam menerbitkan buku inilah, satu pemikiran hebat beliau cetuskan. Ya.....sosok hebat ini  ingin membuka pintu yang seluas-luasnya bagi penulis utamanya penulis pemula agar bisa menerbitkan buku-buku mereka secara gratis. 

Terbentuklah yayasan yang luar biasa Yayasan Pustaka Thamrin Dahlan (YPTD). YPTD terbentuk 29 Juli 2019 berdasarkan Akta Notaris dan SK Kemenkumham. YPTD sebagai Penerbit mendapat kewenangan dari Perpustakaan nasional untuk mengusulkan ISBN buku yang akan diterbitkan.

Berdasarkan kewenangan itu Pak Thamrin juga  bisa menerbitkan buku secara indie (pribadi) buku lebih mudah dan cepat diterbitkan,  bahkan sampai buku ke 30.

Setelah itu YPTD membantu penulis-penulis lain yang telah memiliki naskah buku untuk diterbitkan.  Sejak launching  penerbitan buku gratis ber ISBN 19 Agustus 2020, sejumlah 36 buku diterbitkan oleh YPTD

APA SAJA PROGRAM YPTD?

Angin surga nampaknya benar-benar dihembuskan oleh YPTD.  Beberapa program menggiurkan dilontarkan oleh yayasan ini. Berikut program yang ditawarkan:

Program A 
Program ini ditawarkan kepada penulis yang telah mempunyai naskah buku dan bisa dikirim via email thamrindahlan@gmail.com

Program
YPTD menerbitkan Buku dari para penulis yang telah memposting tulisannya di website dan akan diterbitkan buku gratis.id setelah terkumpul naskah 150 – 200 halaman.

Program C 
Penulis telah memposting di website dan pihak   YPTD takan menerbitkan bukugratis.id sampai 40-50 artikel kemudian buku diterbitkan YPTD

Untuk penerbitan buku secara gratis ini tidak ada seleksi. Penulis  hanya diminta  menyesuaikan tulisannya dengan standard baku  YPTD :
a. Ukuran A5
b. Font 12
c. Margin 1.5/1/1/1
d. Huruf Times News Roman
e. Spasi 1.5
f. Ketebalan 150 – 200 Halaman

YPTD menerima naskah buku penulis via email thamrindahlan@gmail.com lengkap dengan :
Judul, Daftar Isi, Cover depan belakang Buku dan Kata Pengantar.

Tulisan bisa berbentuk Reportase, Opini, Fiksi dan Buku Ajar.  Tidak ada syarat metode penulisan karena setiap penulis memiliki gaya sendiri dan unik. Learning by doing.  Beliau sendiri menulis dengan kalimat pendek pendek dan acap di ulang ulang.  Enak dibaca dengan bahasa sederhana sepeti orang bertutur

Informasi tentang  penerbitan buku yang dipaparkan oleh petinggi YPTD ini  sangat menarik antusias kami. Sebagai penulis pemula rasa ingin tahu kami terhadap tokoh yang satu ini tidak terbendung lagi. Berbagai pertanyaan pun muncul dan dengan sabar beliau membagikan tips supaya tetap fokus dalam menulis. Bahwa tips terhebat agar fokus menulis adalah tujuan kita menulis. Niatkan untuk berbagi. Lakukan hal ini seiap hari. Apa yang ada di sekitar kita bisa dijadikan bahan ide untuk menulis.



Ketakutan pun muncul diantara kami peserta kuliah. penolakan naskah menjadi momok  bagi kami penulis pemula. Tetapi, YPTD  memiliki prinsip semua bahwa tulisan adalah bagus selama bukan plagiat dan hoaks.  YPTD tidak  menilai tulisan yang akan diterbitkan.  Kualitas itu sangat bertingkat dan beragam dan semua berproses.  Jika sudah ada naskah maka YPTD siap membantu menerbitkan buku. Tujuan utama adalah bagaimana meningkatkan Kualitas dan Kuantitas Literasi Indonesia. 

Demikian resume saya untuk perkuliahan hari ke tujuh ini. Semoga bermanfaat. Salam literasi....




Senin, 19 Oktober 2020

Belajar Menulis Bareng Om Jay, hari ke 6, 16 Oktober 2020

 


           Hari ini, sampai detik ini masih kurasakan kebahagiaanku. Om Jay berkenan memberiku hadiah. Bagi Om Jay, sebuah buku mungkin tidak berarti apa-apa. Tapi bagiku, anugerah dari Om Jay di Jumat berkah ini sungguh bermakna besar. Rasa puas atas pencapaianku tidak boleh berhenti sampai di sini. Akan kubuktikan bahwa aku bisa seperti teman-temanku yang lain. 

           Mr. Bams, sosok yang tak kalah hebatnya dengan pemateri-pemateri sebelumnya. Segudang prestasi sudah beliau raih. Sejumlah posisi penting di beberapa organisasi juga sudah beliau duduki. Aku semakin yakin untuk untuk menimba ilmu di grup hebat ini. Orang-orang hebat berada di sekitarku dan siap membimbingku. 

          Mr. Bams berbagi pengalamannya mengelola blog. Wordress menjadi pilihan beliau untuk mengekpresikan diri. Sudah lama Mr. Bams berkecimpung di dunia blog. Bahkan beliau menggunakan blognya untuk tujuan pendidikan selaras dengan profesi beliau sebagai guru.   

          Dokumen-dokumen yang menjadi beban guru tak luput dari incarannya. Dikelolanya dokumen mengajarnya di blog pribadinya. Ini menyadarkan aku bahwa blog tidak dibatasi hanya untuk tujuan penulisan naskah tetapi juga bisa dimanfaatkan untuk mendokumentasikan administrasi guru. Memang Mr. Bams cerdas dalam memanfaatkan blog.

           Menulislah dari apa yang kita sukai. Tulisan bisa disimpan dikertas saat punya ide, kemudian dipindahkan di pengolah kata (microsoft word, atau yang lainnya). Kemudian bisa diposting di blog yang kita kelola. Kuatkan komitmen atau kemauan untuk tetap mau menulis. Sering membaca buku atau postingan blog yang lain bisa memotivasi diri agar selalu ingin menulis.

       Sebagai guru, kita harus selalu mencoba untuk senang membaca dan menulis. Tuangkan dan buktikan bahwa kita bisa menulis, simpan di blog.
Langkah awal menulis di blog WordPress :
1. Kuasai terlebih dahulu bagaimana mengelola blog di WordPress
2. Belajar posting di blog
3. Simpan tulisan di word terlebih dahulu, baru dipos di blog


Bagaimana jurus2 mengelola blog yang baik agar mudah dikenal banyak orang?

a. Rajin posting

b. Rajin share di media sosial yang kita miliki (WA, IG, Facebook)

2. Kuasai tampilan yang disediakan oleh blog, dan harus mau mencoba dan berlatih. Isi blog baiknya apa ? Isi sesuai kebutuhan yang kita perlukan dan apa yang kira-kira apa yang ingin disampaikan kepada para pembaca.

ijin saya memperlihatkan hasil pencarian dengan kata kunci *Mr. Bams* , seringnya menulis Mr. Bams di blog, di web, di instagram, di podcast.


Jumat, 16 Oktober 2020

My Today's Diary


JUMAT BERKAH

Hari ini aku tidak mempunyai agenda kerja yang teramat penting. Semua pekerjaan kantor sudah kuselesaikan kemarin termasuk tugas meresume dari Om Jay. 

Sejenak aku berpikir akan mengerjakan apa untuk hari ini. Selama daring aku hanya ketemu murid-muridku di dunia maya dua minggu sekali. Dan minggu ini sama sekali tidak ada jadwal mengajar.

Iseng-iseng ku buka blogku....hmmmmm masih sama. Belum ada tambahan komentar dari teman-temanku. Tapi itu tak jadi soal karena aku ingat pesan guruku:"Teruslah menulis meskipun tidak ada orang yang membaca tulisanmu". 

Dengan berpegang kata-kata guruku, kupencet tanda plus (+) di dashboard blogku. Kutulis apa yang kuingat tentang pertemuanku dengan teman lamaku sembari menunggu motor kesayanganku dimaintain oleh bengkel langgananku.

Kalimat mengalir begitu saja seolah air mancur yang bergerak cepat dan ada henti. Paragraf demi paragraf sudah kuhasilkan sambil sekali tempo melirik chat grup WAku. Ketika tidak ada info yang menarik, kutinggalkan WAGku. Dan aku terus asyik menuliskan ide-ide di kepalaku.


Tiba-tiba ringtone HPku berbunyi. Perlahan kubuka untuk mengetahui ada informasi apa di WAGku. Ah....hanya foto bayi...hal yang biasa saja pikirku. Apa istimewanya? Itu awal penilaianku karena mataku hanya tertuju pada foto kecil itu. 

Dadaku berdegup kencang ketika ada catatan di bawah foto itu. Om Jay menantang murid-muridnya untuk membuat tulisan tiga alinea berdasarkan foto bayi itu.

Ikut atau tidak? Pertanyaan itu muncul di kepalaku. Kupandangi foto bayi itu terus menerus. Kupikirkan tulisan seperti apa yang tepat untuk foto itu.

Aku ingat pesan bunda Kanjeng. Paksa menulis bahkan pada saat tidak memiliki ide sekalipun. Akupun berkhayal tinggi sekali. Kubayangkan hal-hal yang mungkin jadi ide bagus untuk menjawab tantangan om Jay. 

Sepuluh menit.....setengah jam......satu jam berlalu. Aku baru berhasil membuat satu paragraf. Aku juga ingat pesan bunda Kanjeng, Cak Inin dan Om Jay bahwa ide menulis itu bisa didapat dengan melihat lingkungan sekitar.

Dan benar saja, di sebelahku duduk seorang anak kecil bersama kakeknya. Masya Allah anak kecil ini mampu berbahasa jawa yang sangat halus. Hal yang sudah jarang ditemukan.  Begitu patuhnya anak ini pada sang kakek.

Ah....ternyata pesan guru-guruku benar adanya. Ide demi ide mengalir bak air hujan yang terus menetes menggerakkan tanganku untuk melanjutkan menulis tiga alinea.

Selesai sudah tiga alinea kubuat. Keraguan menyelimutiku. Kirim tidak ya? Layak tidak ya? Ah.....pikiranku maju mundur tidak karuhan. Akhirnya dengan membaca bismillah kuposting tulisanku. 

Kupasrahkan semua ketentuan pada Sang Maha Penentu. Aku tidak lagi mempedulikan kualitas tulisanku. Kubiarkan orang menilai hasil karyaku. Om Jay jual, aku beli...itulah semboyanku.

Dag dig dug terus membayangiku sejak kuposting tulisanku. Sengaja tidak kubuka WAGku. Ketika sampai di rumah, ringtone kembali berbunyi. Dan......ada pesan pribadi masuk......Masya Allah , Bapakku, guruku, motivatorku menghubungiku....

Terima kasih  Om Jay...

Terima kasih pada guru-guruku yang hebat....

Terima kasih teman-teman....

Kalian yang terbaik buatku




Kamis, 15 Oktober 2020

Tantangan Om Jay Menulis Tiga Alinea


 Akhirnya.....Kau Datang Juga 



            
          Alhamdulillah....itu kata yang pertama kali keluar dari mulutku. Empat jam perjuangan istriku sudah berlalu. Empat jam lamanya aku melihat dan merasakan hebatnya rasa sakit yang di rasakan istriku. Sejenak kuamati  putri pertamaku, spontan kuambil posisi sujud menyambut amanah yang Allah titipkan padaku. saat sujudku, kusadari betapa besar pengorbanan dan perjuangan seorang ibu. Dan aku semakin tahu mengapa Allah membuat perbandingan 3:1 untuk seorang ibu. Jadilah kau putri yang berbakti pada orang tuamu khususnya ibumu ya dek.......Kalimat itu yang terselip di hatiku saat kugendong bidadari kecilku.

        Cantik. Ya....itu kata yang kuucapkan setelah mengumandangkan suara suci di telinganya. Bidadari kecilku telah lahir ke dunia. Bidadari yang sudah sekian lama kutunggu kehadirannya. Tangis pertamanya memecahkan gundah hatiku setelah sejuta rasa takut menghantuiku. Tak lupa kuucapkan terima kasih pada istriku karena sudah memberiku hadiah istimewa di hari ulang tahunku. Kukecup pipinya wujud tanda bahagiaku. Lengkap sudah keluargakku. 

          Kupilih sederet nama untuk putri cantikku. Aisyah....itu nama yang kami sepakati untuk menjadi panggilannya. Kami pilih nama itu karena  nama yang agung menurut kami, nama istri Rasulullah. Pipinya yang merah menambah pesona Aisyah. Terselip doa semoga Aisyah menjadi anak yang sholihah. Terima kasih ya Robb telah Kau kirimkan kepada kami buah cinta untuk kami.



Rabu, 14 Oktober 2020

Belajar Menulis Bareng Om Jay, Hari ke 5, 14 Oktober 2020


BELAJAR DARI INSPIRATOR HEBAT

Dag....dig...dug.....ini yang kurasakan menjelang perkuliahan malam ini. Kuliah malam ini sungguh spesial. Sosok yang biasanya bertugas sebagai moderator ternyata naik posisi. Bunda Kanjeng malam ini menjadi dosen kami. Tak sabar kusiapkan laptopku untuk menulis pendahuluan agar mulus resumeku malam ini.

Sudah kubayangkan suara merdu bundaku yang istimewa ini. Ketika ku lihat flyer di grup pelatihan ini, mataku tertuju pada tatapan mata beliau. Tatapan mata yang menyejukkan siapapun yang memandang. Ketika kucermati wajahnya, bisa ku bayangkan betapa cantiknya beliau dikala muda. Guratan guratan kecantikan tampak jelas di wajah beliau.

Kekagumanku tidak berhenti sampai di sini. Ketika profil beliau di share kepada kami, decak kagumku semakin meninggi. Di usia beliau yang tidak lagi muda, beliau masih mampu mengukir prestasi.  Ku bandingkan dengan diriku. Ah....aku sungguh malu.  

Adzan isya' sudah berkumandang. Tinggal beberapa menit saja perkuliahan dimulai. Rasa penasaranku semakin memuncak mengenai materi apa yang akan disampaikan. 

Teng....teng...perkuliahan dimulai. Untuk pembukaan sekaligus warming up, bu Kanjeng menyuguhkan pada kami makanan yang super lezat mahakarya beliau. Sudah pasti suguhan tersebut bukan sembarang suguhan. Berderet-deret buku karya beliau menjadi salah satu bukti kehebatan beliau. Suguhan yang tidak lazim tapi begitu menggugah semangat kami para peserta perkuliahan ini. Suguhan yang membuat aku sendiri malu karena sudah terlalu puas dengan apa yang sudah aku dapat.

Tak terasa suguhan utama pun mulai dibagikan oleh bu Kanjeng. Beliau berbagi tentang dunia tulis menulis dan penerbitan buku.



Berikut ini tips menulis dan cara menerbitkan buku dari sosok hebat, Ibu Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd.

1.Tips Menjadi Penulis. 

1.1 Banyak membaca

Membaca bagi sebagian orang adalah hal yang membosankan bahkan membuat jenuh. Aktivitas yang hanya dilakukan dengan duduk manis. Tapi bagi seorang penulis, membaca merupakan sebuah tuntutan. Selain menambah wawasan, membaca dapat membantunya menemukan  ide atau gagasan penulisan. Dengan seringnya membaca akan mudah bagi seorang penulis untuk  membangun tema  atau ide pokok tulisannya.

1.2 Mencoba menulis

Ketika ide sudah muncul di kepala, alangkah baiknya jika diteruskan dengan menulis apa yang menjadi ide penulisan. Jangan ditunda-tunda lagi untuk menulis. Jangan menunggu, bahkan menunggu sampai di rumah, membuka  laptop dan baru menulis. Di jaman yang serba digital ini, sangat memungkinkan menulis di manapun. Dengan HP di genggaman ide penulisan segera di realisasikan.

Ketika ide benar-benar macet, paksalah untuk tetap menulis. Tulislah bahwa anda tidak mempunyai ide untuk hari itu. Yakinlah, ide akan mengalir di kepala dan siap untuk diteruskan menjadi sebuah tulisan.

2. Tips Disiplin Menulis. 

Untuk menjadi sesuatu perlu kerja keras. Untuk mendapatkan sesuatu perlu upaya yang nyata. Resolusi untuk diri sendiri sangat diperlukan. Demikian juga halnya dengan keinginan menjadi seorang penulis hebat. Agar terasah kemampuannya, perlu ditumbuhkan dalam diri kita untuk bersikap disiplin dalam menulis. Percayalah, dengan banyak menulis akan semakin hebat tulisan kita. Berikut tips untuk disiplin menulis :

2.1 Buat kerangka tulisan. 

Ketika seorang penulis akan membuat satu naskah, keinginan akan sempurnanya hasil karyanya pasti menjadi tujuan utamnya.  Untuk sempurnanya hasil tulisan perlu adanya panduan menulis. Panduan menulis inilah yang nanti akan mengarahkan apa saja yang akan dituangkan dalam tulisanya. Untuk itu membuat kerangka tulisan menjadi sebuah keharusan. Dengan kerangka tulisan tulisan lebih terarah dan bisa mencapai tujuan penulisan. 

2.2 Buat target 

Target yang dimaksud  di atas adalah target waktu penyelesaian tulisan yang suah dirancang.    Penentuan waktu penyelesaian tulisan perlu dilakukan. Mengapa ? Bagaimana caranya?

Ya, hal ini perlu dilakukan agar tulisan kita segera terrealisasi. Jangan mudah berhenti ketika kita sedang menulis. Jangan mudah tergoda oleh  situasi yang menyurutkan semangat menulis dan menyebabkan tertundanya penulisan ide gagasan. 

Jika ada ketakutan akan adanya kemungkinan tidak disiplin dalam memenuhi target waktu penulisan naskah, maka buatlah tabel target. Tabel ini bisa berupa target halaman. dalam satu hari berapa halaman yang harus di selesaikan. Jika naskah terbagi menjadi beberapa bab, maka buatlah target penyelesaian berdasar jumlah bab. misal, satu hari satu bab. 

Sebaik atau sesempurna apapun tabel target ini dibuat maka tidak akan berarti apa-apa jika disiplin menulis tidak ada upaya gua pemenuhannya.

3. Tips Memilih Judul yang Menarik. 

Judul yang menarik? Mengapa? Ya, ini penting karena judul yang menarik akan menentukan curiosity pembaca. Judul yang mampu membuat orang penasaran untuk membacanya biasanya cukup menarik orang untuk membeli buku tersebut jika naskah dalam bentuk buku. . Hal yang perlu diingat bahwa judul harus sesuai dengan tema tulisan Judul harus mudah diingat.

4. Tips Mencari Ide. 

4.1 Membaca

Mencari atau menemukan ide menulis, selain dengan banyak membaca juga bisa didapatkan dengan cara-cara lain. 

Refreshing dan pergi ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi selain untuk me-refresh otak  dari rutinitas juga bisa membatu seorang penulis menemukan ide gagasan dalam menulis. Dengan membaca apa yang kita temukan di tempat-tempat yang kita kunjungi membantu kita menemukan ide. 

4.2 Cari referensi dari berbagai media. 

Saat ini teknologi informasi sudah sedemikian pesatnya. Mencari referensi di internet, hal yang sangat mungkin untuk dilakukan. Bahkan  trik  ATM (amati, tiru, modifikasi) juga  bukan hal yang buruk untuk dilakukan. 

5. Tips Menulis Cepat. 

Pikirkanlah ide tulisan yang akan di buat. Tuliskan!. Kerangka karangan bisa dibuat terlebih dahulu agar lebih terarah. Teruslah mengetik berdasarkan ide yang dimiliki. Jangan lihat ke belakang apa yang telah diketik. Abaikan jika ada yang salah baik dari segi struktur bahasa maupun ide.

6. Tips Memenangkan Lomba. 

Pastikan aturan dan syarat-syarat lomba sudah dipahami dan dilaksanakan. Carilah beberapa referensi yang berkaitan dengan tema lomba tersebut. Setelah  selesai menulis, baca ulang beberapa kali. 

Perbaiki yang salah atau yang kurang enak dibaca. Mintalah penilaian teman atau saudara! 

Setelah selesai mengirimkan naskah, berdoalah. Jika hasilnya tidak seperti yang diharapkan atau  gagal, evaluasilah. Dan teruslah mencoba. Karena setiap orang yang berhasil sesungguhnya telah mengalami setumpuk kegagalan.

7. Langkah-langkah Menulis Buku.  

Tentukan apa jenis buku yang akan dibuat. Apakah berupa novel, esai, ilmu pengetahuan, kumpulan cerpen atau apa. 

Tentukan tema misalkan  jenis buku yang  akan ditulis. Misalkan kita ingin menulis Novel. Setelah itu kita tentukan tema novel tersebut apa. Apakah temanya romantik, inspiratif, ilmiah, atau apa? 

Buat kerangka buku. Jika kita memilih novel, tentukan kerangka ceritanya seperti apa. Hal ini bisa kita tulis atau cukup kita pikirkan.

8. Tips dan Cara Mengirim Tulisan ke Media. 

Buat tulisan yang menarik. Pilih tulisan yang sesuai temanya dengan waktu aktual dan banyak dibutuhkan. Sesuaikan dengan media masa yang dikirimkan. Jangan mengirimkan ke banyak media masa sekaligus ya. 

9. Membuat Pembaca Penasaran. 

Perhatikan saat hendak jeda iklan ketika kita sedang menonton talk show. Sebelum iklan, pembawa acara biasanya melontarkan pertanyaan terlebih dahulu pada narasumber yang belum sempat dijawab narasumber. Tujuannya apa? Agar penonton penasaran dan tak pindah chanel. Dalam dunia buku, pembaca mungkin juga akan berhenti membaca sebuah buku ketika ia merasa bosan pada bab-bab tertentu.

10. Manfaatkan Mengikuti Event

Mengikuti event tertentu akan mengasah otak untuk mencari ide. Melatih disiplin menulis dan memperbanyak pengalaman menulis. Mengenal penulis-penulis lain dan memungkinkan mendapatkan hadiah. 

11. Cara Mengirim Naskah Ke Penerbit dan Hal Yang Harus Diperhatikan.

Siapkan naskah yang sudah rapi. Perhatikan  tata cara pengiriman dan ketentuannya. Misal, ada penerbit yang hanya menerima naskah dalam bentuk cetak, ada pula penerbit yang menerima naskah dalam bentuk file lewat email.  Pilihlah penerbit yang sesuai dengan jenis naskah yang kita miliki. 

Kirimkan naskah beserta sinopsis dan biodata penulis. Hindari mengirim naskah ke beberapa penerbit sekaligus. 

12. Hal Yang dipertimbangkan Penerbit dalam Menerima Naskah

Adanya kesesuaian dengan penerbit. Misalkan, penerbit yang menerbitkan naskah Islami tentu akan menolak naskah yang tidak sesuai. Kualitas naskah tentu menjadi faktor terbesar dalam penilaian.

13. Waktu yang  Tepat untuk Menulis. 

Waktu yang tepat untuk menulis berbeda antara orang yang satu dengan yang lainnya. Semua terpulang kepada pribadi masing-masing penulis. Biasanya saat senggang atau sedang menunggu. Bisa juga malam hari sebelum tidur. Sebagian ada juga yang pada pagi hari setelah subuh. Waktu luang pun bisa dijadikan waktu tenang untuk menulis. Apalagi kondisi masih fresh. Saat ada ide karena ini yang paling penting.  

14. Banyak Cara Menerbitkan Buku dan Jadi Penulis. 

Banyak orang yang ingin jadi penulis sukses. Tetapi kesuksesan dalam menulis tentu tidaklah selalu mulus. Tidak menutup kemungkinan bahwa naskah akan di tolak. Di sinilah tantangan muncul. Maju atau mundur dalam penerbitan buku terpulang kepada pemilik naskah. Ada kata-kata indah,  terus maju pantang mundur.  Tetapi ada juga kata-kata sederhana, cukup sampai di sini. Pilihan mana yang akan diambil terserah pada pemilik naskah.

15. Di Belakang Buku.(Sinopsis)

Bagian belakang sebuah buku adalah sinopsis. Mengapa sinopsis  perlu  diperhatikan? Dengan membaca sinopsis, ketertarikan untuk membaca dan membeli buku akan semakin tinggi.

16. Yang Perlu dilakukan Penulis Setelah Bukunya Terbit. 

Penulis harus membantu mempromosikan bukunya karena tidak ada jaminan bahwa buku tersebut laris di pasaran.  Kita harus memperbaiki naskah buku tersebut jika ada kritik dari pembaca. agar di cetakan berikutnya bukunya lebih baik lagi. Terus berkarya walaupun nama sudah dikenal banya orang dan telah mendapatkan royalti yang melimpah sekalipun. 

17. Jalan untuk Jadi Penulis Sukses. 

Jangan buru-buru membuang naskah yang sudah dengan susah payah di susun, karena penulis sukses pun awalnya mengalami penolakan. Pada saat naskah ditolak,  setidaknya punya 2 pilihan: mau terus berjuang, atau berhenti.

Jika terus berjuang, akan ada 2 pilihan lagi: mau terus mengirimkan ke penerbit mayor, atau diterbitkan secara self publishing. Mereka mampu menjual karyanya tanpa melalui toko buku konvensional. Di sisi lain, banyak juga penulis Indonesia yang awalnya menerbitkan buku secara indie/self publishing, lalu kemudian karena karyanya potensial, akhirnya diterbitkan oleh penerbit besar dan laris. 

Itulah tujuh belas menu utama dari suguhan bu Kanjeng malam ini. Menu yang sangat komplit untuk menjadi penulis hebat.

PESAN BU KANJENG



Di ujung jamuan, bu Kanjeng mengingatkan beberapa hal kepada kami agar kami menjadi penulis-penulis. 

Sebagai penulis pemula kami harus terus melangkah dan jangan berhenti. Menulis harus menjadi sebuah  kebutuhan bukan kewajiban. Menulis itu adalah suatu keterampilan, bukan bakat. Jadi Menulis haus dilatih. 

Beristiqomahlah dalam menulis. Ini pesan bu Kanjeng selanjutnya. Biarkan tulisan menemui takdirnya. Tetap menulis dan belajar mengupgrade diri agar naik kelas harus selalu dilakukan. Menulislah apa yang disukai dan dikuasai.

Demikian resume kuliah di har ke 5. Semoga bermanfaat.....salam literasi...semangat menulis